RAGAM DAERAH– Deklarator Kabupaten Bandung Barat (KBB), Asep Suhardi (Ado) minta, momentum pilkada harus dijadikan oleh partai politik pilkada yang murah meriah.
Masalah itu pun, sebut Ado, sangat mudah tercipta, lantaran kebanyakan para ketua parpol di KBB asli putra daerah. “Para pimpinan parpol di KBB masih pada muda dan cerdas-cerdas, dipastikan akan mampu mengelola Bandung Barat,” kata Ado.
Tentunya, apabila KBB dikelola oleh putra daerah akan timbul panatik daerah yang tentunya dalam mengelola KBB, akan menggunakan hati nurani dalam pengelolaannya.
Pilkada murah harus tercipta, Ado beralasan, bupati terpilih nanti tidak akan melakukan korupsi yang dapat merugikan negara dan dirinya. “Ya kalau pilkadanya mahal saya khawatir bupati terpilih nanti akan korupsi karena telah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mahar politik. Makanya praktik jual beli kursi sebagai syarat pencalonan mesti di hindari,” ungkap Ado.
Kondisi kekuatan partai politik di parlemen, juga kata Ado, untuk pilkada saat ini seimbang. Bagaimana tidak, saat ini tidak ada satu pun parpol yang bisa mengusung calon sendiri tanpa koalisi. “Ada delapan parpol di KBB peraih kursi di parlemen. Kemungkinan maksimal bisa menjadi empat calon dan minimal tiga calon,” tutur Ado.
Sebagai pendiri Bandung Barat Ado berharap, bupati KBB terpilih nanti adalah putra daerah. “Mayaritas kelompok masyarakat khususnya pemuda, ingin putra daerah yang tampil menjadi pemimpin Bandung Barat karena kelompok-kelompok itu merasa putra daerah seakan menjadi tamu di rumahnya sendiri kalau kata pepatah orang Sunda Jati kasilih ku junti,” sebut Ado.
Pilkada 2024 ini , Ado berpandangan momentum yang tepat untuk membenahi KBB yang diawali dengan pilkada yang sangat murah. “Kalau bisa menciptakan pilkada murah saya khaikul yakin KBB ke depannya akan subur makmur akan terhindar sakit yang parah seperti hari ini,” tuturnya.
Namun sebaliknya, apabila pilkada mahal Ado khawatir, akan ada oknum-oknum yang mengubah suara dari penyelenggara pilkada. “Karena ambisi orang luar yang mencalonkan yang punya uang besar, maka terjadi praktik jual beli suara dengan berubahnya suara di tiap TPS oleh oknum penyelenggara,” kata Ado.
Dirinya mengaku trauma, kejadian pileg lalu, banyak suara caleg berubah tanpa kejelasan. “Pilkada hindari seperti itu. Kita perang-perang biasa aja bertanding secara suportif karena sama-sama orang Bandung Barat, setelah selesai pilkada kita kompromi karena tujuannya untuk membangun Bandung Barat tidak ada perhelatan yang sangat sengit,” pungkasnya. ***

