
CIMAHI – Warga Kampung Adat Cireundeu lebih memilih kampungnya dijadikan objek wisata ketimbang tempat pembuangan sampah.
Sejumlah warga kampung adat pun menilai, tidak ada manfaatnya jika hutan reundeu yang asri itu dijadikan tempat sampah. Bahkan, mereka akan menolak pihak manapun yang berniat menjadikan lagi tempat sampah.
“Jelas warga pasti menolak. Tapi, kalau jadi objek wisata akan semakin baik dan manfaatnya banyak,” ucap Panitren Kampung Adat Cireunde, Asep Abas, Jumat (23/2/2018).
Kampung yang terletak di lembah Gunung Kunci, serta dihapit oleh dua gunung yakni, Gunung Cimenteng dan Gunung Gajahlangu itu, memiliki kekhasan tersendiri. Mulai dari budaya serta norma dan aturan adat istiadat yang dapat dijadikan dasar dasar dalam kehidupan mereka.
Selain itu, kampung yang masuk wilayah Kecamatan Cimahi Selatan, atau tepatnya di Kelurahan Leuwigajah Kota Cimahi ini, kental dengan mayoritas masyarakatnya yang tidak memakan beras nasi seperti masyarakat pada umumnya.
Hingga saat ini mereka makan singkong sebagai pengganti nasi. Salah satu olahan singkong yang menjadi ikon di kampung tersebut adalah, singkong yang diolah menjadi beras. “Beras singkong adalah warisan dari leluhur yang harus tetap dijaga,” sambung Asep.
Menurutnya, peningkatan ekonomi akan terjadi jika kampungnya jadi sebuah objek wisata. Selain itu, dapat juga menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Saya rasa manfaatnya bisa dirasakan untuk semua. Tidak hanya warga, tapi pemerintah pun bisa memanfaatkannya,” tuturnya.
Ia berharap, pemerintah bisa mempertimbangkan lagi niat mereka yang ingin menjadikan lahan tersebut tempat pengelolaan sampah. “Jadi tempat eduwisata akan lebih baik,” pungkasnya. (mon)
Copyright secured by Digiprove 