Warga Cimahi Tuding Dinkes Lambat Tangani Difteri

CIMAHI- Kendati sudah mengikhlaskan kepergian buah hatinya, namun diakui Dadang Suherman orang tua Muhuhamad Dicky (5) korban meninggal akibat difteri, sejauh ini, ia dan warga sekitar merasa belum pernah mendapatkan penyuluhan maupun pemahaman dari, pemerintah sebagai bekal pencegahan terhadap penyakit mematikan itu.

“Saya tahunya dari siaran televisi kalau, difteri itu bisa menyebabkan kematian. Tapi itu tidak detil dan hanya sepintas,” katanya, Minggu (4/2/2018)?

Terjadinya kasus difteri ini tentu sangat disayangkan oleh sejumlah warga, terutama yang tinggal di lingkungan Rw 4 Kelurahan Cigugur. Sebagian warga pun berasumsi bahwa meninggalnya Dicky akibat difteri itu dikarenakan, peran Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi yang lamban dalam memberikan informasi tentang kesehatan.

Selain itu, yang paling disayangkan warga adalah, ketika pihak rumah sakit di Kota Cimahi yang hanya bisa memberikan rujukan terhadap pasien penderita penyakit yang termasuk dalam Kasus Luar Biasa (KLB).

Lucunya lagi, setelah ada warga yang meninggal dunia akibat difteri, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi baru memberikan penyuluhan dan membagikan obat pereda nyeri tenggorokan (difteri) serta memberikan sebuah imbauan.

Menurut Ketua Rt 07 RW 04 Kelurahan Cigugur, Salman Sopian, lambannya respon dari pihak Pemerintah Kota Cimahi dalam hal kesehatan, imbasnya langsung dirasakan masyarakat sehingga, warga pun kekurangan suatu informasi yang sangat penting.

“Kalau hanya sosialisasi melalui media massa saja, saya rasa tidak cukup. Saya harap pihak terkait kedepannya langsung turun ke lapangan agar, tahu bagaimana situasi dan kondisinya,” kata Salman, kemarin.

Kepala Dinkes Kota Cimahi, drg Pratiwi, mengatakan, pihaknya akan melayangkan surat edaran tentang kewaspadaan dini Kasus Luar Biasa (KLB) difteri kepada seluruh rumah sakit, Puskesmas, klinik swasta, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI), yang ada di Kota Cimahi.

Selain itu, akan dilakukan pula surveilans ketat selama enam bulan ke depan terhadap, peningkatan kasus Tonsilitis, Faringtis, cakupan imunisasi DPT lima tahun terakhir dan pemantauan cold chain serta, melakukan cakupan imunisasi, ketersediaan vaksin dan penyimpanan vaksin. “Kemudian, sweeping untuk melengkapi status imunisasi dasar,” ujarnya. (mon)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *