CIMAHI– Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna mulai memikirkan lahan untuk membangun ketahanan pangan.
Menurut Ajay, Cimahi sebagai sebuah kota berpendudukpadat dengan luas wilayah sempit, memiliki tugas berat membangun ketahanan pangan di wilayahnya.

Terlebih lagi, dalam kondisi pandemi Covid-19 berdampak kepada tatanan kehidupan masyarakat secara keseluruhan, para pelaku di sektor pertanian di Kota Cimahi dituntut lebih kreatif melakukan diversifikasi atas produk pangan yang dihasilkannya.
“Pandemi ini ada sisi negatif dan positifnya. Untuk sisi positifnya, kita mau tidak mau harus berpikir dan berkreasi untuk semakin kreatif,” kata Ajay ketika membuka kegiatan Pelatihan Diversifikasi Pangan Dengan Olahan Abon Cabe di Aula Gedung B Komplek Perkantoran Pemerintah Pemkot Cimahi, Selasa (24/11/2020).
Di tengah semua keterbatasan di era pandemi ini, kembali Pemkot melalui Dinas Pangan dan Pertanian menggagas suatu inovasi melalui kolaborasi dan sinergitas dengan masyarakat tani seperti KWT Kelompok Wanita Tani melalui pelatihan diversifikasi pangan dalam bentuk membuat abon cabe, dimana alatnya dibantu sama Dispangtan.
Ditanya tentang alasan pemilihan produk abon cabe, Ajay menyatakan, bahwa faktor ketersediaan lahan menjadi alasan yang utama karena tanaman cabe tidak membutuhkan lahan yang luas sehingga cocok untuk dikembangkan di Kota Cimahi.
Di samping itu, pangsa pasar untuk komoditas cabe beserta turunannya juga cukup bagus sehingga dapat memberikan nilai tambah ekonomi yang tinggi bagi para petani yang menanamnya.
“Kenapa milih cabe? Tadi Pak Kadis pangtan mengatakan bahwa cabe itu pertama pasarnya bagus, karena masakan apapun harus ada unsur cabe nya kelihatannya, berdasarkan survey di berbagai restoran-restoran. Dan yang kedua, menanamnya tidak diperlukan lahan yang sangat besar tapi bisa diinovasikan melalui misalnya polybag Jadi dalam bentuk kecil cocok di Cimahi dan persebarannya juga cukup,” jelas Ajay.
Selanjutnya, Ajay menjanjikan bahwa Pemkot Cimahi akan memberikan bantuan untuk distribusi atau penyaluran produk abon cabe yang dihasilkan oleh seluruh KWT yang turut serta dalam pelatihan diversifikasi pangan tersebut.
Pihaknya optimis, pemasaran untuk produk olahan abon cabe tersebut tidak akan terlalu sulit mengingat tingginya permintaan pasar untuk produk tersebut sebagai bumbu masakan.
Terpenting, Ia mengingatkan agar produk olahan cabe tersebut segera diberikan nama/merk dagangnya dan dipatenkan sehingga akan mempermudah langkah pemasaran ke depannya.
“Tadi juga saya sudah merasakan [abon] yang dihasilkan, enak yah ada rasanya dan tidak ada unsur kimianya sama sekali. Dan bisa bertahan cukup lama, expired-nya sampai setahun katanya. Tapi produknya ini belum ada namanya. Makanya tadi saya katakan, jangan lupa hasilnya dipatenkan. Insya Allah kami akan bantu pemasarannya, karena hasilnya memang luar biasa,” pungkas Ajay.
Turut hadir pada kesempatan tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Cimahi, Hj. Rr. Lucyani, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi, serta para narasumber dari Universitas Pasundan. Adapun yang menjadi peserta pada kegiatan tersebut adalah 5 (lima) Kelompok Wanita Tani (KWT) dari Kelurahan Cipageran, Kelurahan Pasirkaliki, Kelurahan Karang Mekar, Kelurahan Leuwigajah dan Kelurahan Citeureup. (Bidang IKPS). ****
