Terjemahan:
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ ٱلْكِتَـٰبَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـٰذَا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشْتَرُوا۟ بِهِۦ ثَمَنًۭا قَلِيلًۭا ۖ فَوَيْلٌۭ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌۭ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, disebabkan apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besar bagi mereka, disebabkan apa yang mereka kerjakan.
Tafsir Ayat
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ ٱلْكِتَـٰبَ بِأَيْدِيهِمْ
(Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri)
Kata “ويل” (wayl) adalah ungkapan yang menunjukkan ancaman atau kecelakaan besar. Bisa diartikan sebagai kehancuran, kecelakaan, atau azab yang besar. “يَكْتُبُونَ ٱلْكِتَـٰبَ بِأَيْدِيهِمْ” (yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri) merujuk pada orang-orang yang menulis kitab suci dengan tangan mereka sendiri, bukan berasal dari wahyu Allah, tetapi mereka klaim sebagai wahyu Allah.
ثُمَّ يَقُولُونَ هَـٰذَا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ
(lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”)
Mereka mengklaim bahwa tulisan tersebut adalah dari Allah, padahal itu adalah ciptaan mereka sendiri. Ini menunjukkan penipuan besar dan manipulasi terhadap wahyu ilahi.
لِيَشْتَرُوا۟ بِهِۦ ثَمَنًۭا قَلِيلًۭا
(dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu)
Motif mereka adalah untuk mendapatkan keuntungan duniawi yang sedikit, dengan menjual agama dan mengorbankan kebenaran demi keuntungan materi atau kedudukan.
فَوَيْلٌۭ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ
(Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, disebabkan apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri)
Pengulangan kata “ويل” menunjukkan penekanan pada ancaman yang sangat besar bagi mereka. Ini menggarisbawahi bahwa dosa mereka sangat besar karena telah mengubah wahyu Allah dan menipu umat manusia.
وَوَيْلٌۭ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ
(dan kecelakaan besar bagi mereka, disebabkan apa yang mereka kerjakan)
Ancaman kedua ini memperjelas bahwa tidak hanya tindakan menulis yang dihukum, tetapi juga semua akibat dari perbuatan mereka, termasuk kerusakan moral dan sosial yang mereka sebabkan. Berulangnya kata “ويل” menekankan seriusnya dosa yang dilakukan. Gaya bahasa ini sering digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan konsekuensi berat dari perbuatan tertentu.
Kalimat dibentuk sedemikian rupa untuk menekankan tindakan (menulis kitab palsu) dan motivasi (mendapat keuntungan duniawi), serta akibatnya (kecelakaan besar). Ini menggambarkan hubungan sebab-akibat yang kuat.
Makna Kata “ٱلْكِتَـٰبَ“
Kata “ٱلْكِتَـٰبَ” dalam konteks ayat ini tidak merujuk pada buku biasa, melainkan kitab suci yang dianggap sebagai wahyu Allah. Ada beberapa alasan mengapa kata ini diterjemahkan sebagai kitab suci, bukan buku biasa:
- Konteks Historis dan Teologis:
Pada masa pewahyuan Al-Qur’an, kata “kitab” sering digunakan untuk merujuk pada tulisan suci atau wahyu ilahi. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, kata ini juga mengacu pada Taurat, Injil, dan kitab-kitab lainnya yang dianggap sebagai wahyu dari Allah.
- Klaim sebagai Wahyu:
Ayat ini mengecam orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri lalu mengklaim bahwa tulisan tersebut berasal dari Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka menulis sesuatu yang mereka klaim sebagai wahyu, padahal sebenarnya adalah hasil karya mereka sendiri. Jadi, “kitab” di sini merujuk pada sesuatu yang dianggap memiliki otoritas keagamaan dan dianggap sebagai firman Tuhan.
- Penggunaan huruf Definitif “Al-“:
Kata “الكتاب” dengan tambahan “ال” (al-) menunjukkan bahwa ini adalah kitab yang dikenal, yaitu kitab yang dianggap sebagai wahyu ilahi oleh komunitas tersebut. Dalam banyak ayat lain dalam Al-Qur’an, “الكتاب” sering digunakan untuk merujuk pada wahyu atau kitab suci yang diakui.
- Konteks Ayat:
Ayat ini berbicara tentang tindakan memalsukan wahyu dan menjualnya untuk keuntungan duniawi. Ini adalah tindakan yang hanya relevan jika yang dipalsukan adalah sesuatu yang dianggap suci dan memiliki nilai keagamaan tinggi. Buku biasa tidak akan memiliki dampak yang sama atau menimbulkan kecaman yang begitu keras.
Penjelasan Lebih Lanjut
- Perbedaan dengan Buku Biasa:
Buku biasa adalah karya manusia yang tidak memiliki klaim sebagai wahyu atau firman Tuhan. Kitab suci, di sisi lain, adalah teks yang dianggap sebagai komunikasi langsung dari Allah kepada manusia, dan oleh karena itu memiliki otoritas spiritual dan hukum yang tinggi.
Menulis buku biasa dan mengklaimnya sebagai karya manusia tidak akan menimbulkan kecaman seperti yang diungkapkan dalam ayat ini. Namun, menulis kitab dan mengklaimnya sebagai wahyu Allah adalah tindakan penipuan spiritual yang sangat serius.
- Relevansi dengan Kitab Suci Sebelumnya:
Dalam konteks Yahudi dan Kristen, terdapat tradisi menulis dan menyusun teks-teks yang dianggap sebagai bagian dari kitab suci. Ada sejarah mengenai perubahan dan penulisan ulang teks-teks ini, yang dalam beberapa kasus menimbulkan kontroversi dan tuduhan pemalsuan.
Al-Baqarah ayat 79 menarik perhatian para mufassir karena kecaman keras terhadap mereka yang memalsukan wahyu Allah untuk keuntungan duniawi. Berikut adalah pandangan beberapa mufassir terkenal mengenai ayat ini:
Tafsir Ibn Kathir
Ibn Kathir menjelaskan bahwa ayat ini mengecam tindakan Bani Israil yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri dan kemudian mengklaimnya sebagai wahyu dari Allah. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan keuntungan materi atau kedudukan di antara orang-orang. Ibn Kathir menyebutkan bahwa tindakan tersebut adalah bentuk kebohongan dan penipuan yang besar karena mereka mengubah hukum Allah untuk kepentingan pribadi mereka.
Tafsir Al-Qurtubi
Al-Qurtubi juga menyoroti kecaman terhadap pemalsuan wahyu. Menurutnya, ayat ini ditujukan kepada sekelompok orang Yahudi yang menulis kitab yang tidak diturunkan oleh Allah dan kemudian menjualnya dengan harga yang murah. Al-Qurtubi menekankan bahwa ancaman “ويل” (kecelakaan besar) menunjukkan betapa beratnya dosa mereka yang mengubah firman Allah demi keuntungan duniawi.
Tafsir Al-Tabari
Al-Tabari menafsirkan bahwa ayat ini mengutuk orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri dan kemudian mengklaimnya sebagai wahyu untuk menipu orang lain dan mendapatkan keuntungan materi. Menurut Al-Tabari, ini adalah peringatan bagi umat Islam agar tidak mengikuti jejak orang-orang tersebut dan menjaga kemurnian wahyu Allah.
Tafsir Jalalayn
Tafsir Jalalayn menyebutkan bahwa ayat ini mengecam para ahli kitab yang menulis ulang atau mengubah kitab suci mereka dan kemudian mengklaim bahwa itu adalah wahyu dari Allah. Tafsir ini menegaskan bahwa tindakan mereka adalah dosa besar karena mereka menipu umat manusia dengan mengubah firman Allah untuk mendapatkan keuntungan yang sedikit.
Kesimpulan:
Kata “ٱلْكِتَـٰبَ” dalam Al-Baqarah ayat 79 diterjemahkan sebagai kitab suci karena konteks ayat tersebut berbicara tentang tindakan memalsukan wahyu Allah untuk keuntungan duniawi. Penggunaan kata definitif “ال” dan klaim bahwa ini dari Allah menegaskan bahwa yang dimaksud adalah teks yang dianggap suci dan memiliki otoritas keagamaan, bukan buku biasa.
Para mufassir sepakat bahwa Al-Baqarah ayat 79 mengutuk tindakan pemalsuan wahyu Allah dan menekankan pentingnya menjaga keaslian dan kemurnian ajaran ilahi. Mereka juga mengingatkan umat Islam agar tidak tergoda untuk mengubah atau memalsukan ajaran agama demi keuntungan duniawi. Ancaman “ويل” dalam ayat ini menunjukkan betapa seriusnya dosa tersebut di mata Allah.

