RAGAM DAERAH–Kepulan asap sate wangi semerbak saat melintas di Jalan Encep Kartawiria Kota Cimahi, Kamis 27 Febuari 2025.
Tentu terasa perut keronconngan di tambah cuaca ekstrem guyuran hujan deras tak henti sejak sore.
Solusinya adalah makan sate di tambah lontong dengan bumbu kacang yang kental.
Maka, singgah di pedagang sate khas Madura yang mangkal dekat pangkalan ojeg Kamarung.
Cuaca hujan, membuat dagangan Si Mas penjual sate madura hampir habis. Pembakaram sate tak hentinya mengepulkan asap pertanda banyak antrean pesanan sate.
Sate Madura ternyata punya cerita sejarah tersendiri. Yakni berasal dari cerita Arya Panoleh dan Batara Katong.
Diceritakan Arya Panoleh penguasa Sumanep berkunjung ke tempat sang kakak, Batara Katong yang berkuasa di Ponorogo.
Saat tiba di Ponorogo, Arya Panoleh disuguhi makanan berbahan daging yang ditusuk dengan lidi dan dibumbui.
Arya Panoleh sempat menolak karena tak pernah menikmati hidangan tersebut.
Sang kakak lalu mengatakan jika makanan tersebut biasa dimakan pendekar Ponorogo
Akhirnya dia dan rombongan pun bersedia makan roncean daging yang berbumbu.
Tak hanya makanan yang diadopsi oleh Arya Panoleh saat berkunjung ke Sumenap.
Ia juga mengadopsi selompret pada musik reyog yang dikenal oleh warga Sumenep dengan saronen.
Termasuk juga pakaian warok yang serba hitam dan kaos bergaris-garis yang juga menjadi ciri khas orang Madura.
Awalnya sate dengan tusuk lidi hanya ditemukan di Sumenep sebelum akhirnya menyebar ke dataran Pulau Madura. (***/berbagai sumber)

