Dalam bukunya The Early History of God: Yahweh and the Other Deities in Ancient Israel, Mark S. Smith membahas perkembangan kepercayaan terhadap YHWH dalam konteks budaya dan agama Kanaan. Smith berpendapat bahwa pada masa awal, YHWH bukan satu-satunya Tuhan yang disembah oleh bangsa Israel, melainkan bagian dari panteon dewa yang lebih luas. Artikel ini akan menguraikan pandangan Smith tanpa interpretasi dari sumber lain, berdasarkan isi bukunya.
YHWH dalam Konteks Kepercayaan Kanaan
Smith menunjukkan bahwa bangsa Israel awal memiliki hubungan erat dengan budaya Kanaan. Dalam mitologi Kanaan, El adalah dewa tertinggi yang dihormati sebagai pencipta dan pemimpin para dewa. Selain itu, Baal adalah dewa badai dan kesuburan, sedangkan Asyerah sering diasosiasikan sebagai pasangan El.
Menurut Smith, YHWH awalnya tidak termasuk dalam panteon utama Kanaan, tetapi muncul sebagai dewa regional di kawasan selatan, kemungkinan dari daerah Midian atau Seir. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa pada tahap awal, YHWH mungkin dipuja bersamaan dengan El atau bahkan dianggap sebagai manifestasi El.
Beberapa ayat Alkitab yang menunjukkan pengaruh politeistik di Israel awal antara lain:
- Mazmur 82:1 → “Allah berdiri di tempat pertemuan ilahi, di tengah para dewa Ia menghakimi.”
- Keluaran 15:11 → “Siapakah yang seperti Engkau, ya Tuhan, di antara para dewa?”
Menurut Smith, ayat-ayat ini menggambarkan sisa-sisa kepercayaan terhadap dewa-dewa lain dalam teks Ibrani sebelum gagasan monoteisme berkembang.
YHWH dan Asyerah: Bukti Arkeologi dan Tradisi Keagamaan
Salah satu temuan penting yang dibahas Smith adalah inskripsi dari Kuntillet Ajrud dan Khirbet el-Qom yang menyebut “YHWH dan Asyerah-Nya.” Temuan ini menunjukkan bahwa dalam beberapa komunitas Israel awal, YHWH dipasangkan dengan Asyerah, yang secara tradisional adalah pasangan El dalam kepercayaan Kanaan.
Di antara contoh arkeologi yang mendukung pandangan ini adalah:
- Prasasti Kuntillet Ajrud yang bertuliskan doa berkat kepada “YHWH dan Asyerah-Nya.”
- Prasasti Khirbet el-Qom yang menyebutkan hubungan serupa antara YHWH dan Asyerah.
Selain itu, dalam Alkitab terdapat beberapa ayat yang menunjukkan bahwa pemujaan Asyerah masih bertahan di Israel, meskipun akhirnya dilarang:
- Hakim-hakim 3:7 → “Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dan melupakan Tuhan Allah mereka, lalu beribadah kepada para Baal dan Asyerah.”
- Yeremia 7:18 → “Anak-anak memungut kayu, bapak-bapak menyalakan api, perempuan-perempuan mengadon tepung untuk membuat kue persembahan bagi Ratu Surga…”
Smith berpendapat bahwa pelarangan terhadap Asyerah dalam teks-teks kemudian adalah bagian dari proses perubahan ke arah monoteisme yang lebih ketat.
Transisi dari Politeisme ke Monoteisme
Menurut Smith, transisi dari politeisme ke monoteisme dalam agama Israel tidak terjadi secara mendadak. Pada periode awal, bangsa Israel masih memiliki praktik keagamaan yang mencerminkan kepercayaan kepada banyak dewa. Namun, dengan perkembangan sosial, politik, dan pengaruh eksil Babilonia, gagasan tentang satu Tuhan mulai semakin mengakar.
Pada periode eksil dan pasca-eksil, teks-teks seperti Ulangan dan Yesaya semakin menekankan monoteisme:
- Ulangan 6:4 → “Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa!”
- Yesaya 44:6 → “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.”
Perubahan ini mungkin dipengaruhi oleh faktor politik, seperti upaya untuk memperkuat identitas Israel dalam menghadapi bangsa-bangsa lain. Selain itu, peristiwa pembuangan ke Babel membuat bangsa Israel semakin menekankan kesetiaan hanya kepada YHWH.
Argumentasi Kuat dari Mark S. Smith
Mark S. Smith membangun argumentasinya berdasarkan tiga pilar utama: bukti arkeologi, analisis tekstual Alkitab, dan perbandingan dengan tradisi agama Kanaan.
- Bukti Arkeologi: Temuan prasasti Kuntillet Ajrud dan Khirbet el-Qom yang menyebut “YHWH dan Asyerah-Nya” menjadi bukti kuat bahwa pemujaan terhadap YHWH tidak selalu bersifat monoteistik sejak awal. Artefak ini menunjukkan bahwa YHWH awalnya memiliki pasangan dewi, sebagaimana dewa-dewa dalam panteon Kanaan lainnya.
- Analisis Tekstual: Smith menyoroti bagaimana teks-teks Alkitab tertentu, seperti Mazmur 82:1 dan Keluaran 15:11, menunjukkan adanya sisa-sisa politeisme dalam tradisi Israel awal. Ia juga menyoroti bagaimana kitab Ulangan dan Yesaya mulai menegaskan monoteisme, yang mengindikasikan adanya perubahan kepercayaan secara bertahap.
- Perbandingan dengan Tradisi Kanaan: Dengan meneliti mitologi dan praktik keagamaan Kanaan, Smith menunjukkan bahwa banyak elemen dalam kepercayaan Israel awal berasal dari budaya yang lebih luas di sekitar mereka. Ia berpendapat bahwa YHWH pada awalnya berperan mirip dengan Baal atau El, dan hanya kemudian diangkat sebagai satu-satunya Tuhan dalam monoteisme Israel.
Dengan menggabungkan ketiga aspek ini, Smith menyimpulkan bahwa kepercayaan kepada YHWH mengalami transformasi dari dewa regional menjadi satu-satunya Tuhan dalam monoteisme Israel.
Berdasarkan penelitian Mark S. Smith dalam The Early History of God, kepercayaan terhadap YHWH mengalami evolusi bertahap. Awalnya, YHWH adalah bagian dari panteon Kanaan yang lebih besar, di mana El, Baal, dan Asyerah memainkan peran penting. Seiring waktu, YHWH mulai menempati posisi utama dalam kepercayaan Israel, dan monoteisme semakin ditekankan dalam teks-teks keagamaan. Temuan arkeologi seperti prasasti Kuntillet Ajrud dan Khirbet el-Qom mendukung gagasan bahwa pada tahap awal, YHWH masih memiliki keterkaitan dengan Asyerah. Perubahan menuju monoteisme yang lebih ketat terjadi secara bertahap dan dipengaruhi oleh faktor sosial, politik, serta pengalaman pembuangan ke Babel.
Artikel ini hanya merangkum isi buku Smith tanpa menambahkan interpretasi dari sumber lain, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

