
Segalak-galaknya macan tidak akan memakan anaknya sendiri. Tapi tidak bagi ayah bejat yang satu ini. Seorang ayah tega melelang anak gadisnya yang masih berusia 16 tahun lewat Facebook. Dilansir dari Newsweek pada Rabu (21/11), insiden yang terjadi di Sudan tersebut menuai kecaman dari banyak pihak.
Direktur NGO Plan International George Otim mengatakan, dari hasil lelang tersebut, ayah gadis itu dilaporkan menerima 500 sapi, 3 mobil, dan USD 10 ribu sebagai ganti putrinya, yang dinikahkan dengan penawar yang menang. Mereka menikah pada 3 November di Negara Bagian Eastern Lakes.
âIni dalah cara penggunaan teknologi yang sangat barbarâ kata Otim dalam sebuah pernyataan. Naasnya, lima orang orang yang berpartisipasi dalam pelelangan, beberapa di antaranya dilaporkan sebagai pejabat tinggi pemerintah.
Sementara itu, seorang juru bicara dari Facebook menegaskan, perusahaan memiliki kebijakan ketat terhadap perdagangan manusia. âKami menghapus unggahan itu dan secara permanen menonaktifkan akun milik orang yang mengunggah itu di Facebook. Kami selalu meningkatkan metode yang kami gunakan untuk mengidentifikasi konten yang melanggar kebijakan kami, termasuk menggandakan tim keselamatan dan keamanan kami ke lebih dari 30.000 dan investasi dalam teknologi.â
Insiden itu terjadi ketika Facebook menghadapi kritik luas atas kegagalannya untuk mengatasi penyalahgunaan Facebook. Misalnya, oposisi di Sri Lanka menuduh partai yang berkuasa menggunakan data Facebook untuk menargetkan anggota-anggota oposisi politik.
Dalam sebuah surat terbuka ke Facebook, anggota Partai Nasional Bersatu Sri Lanka meminta CEO Facebook Mark Zuckerberg untuk mengambil langkah-langkah melindungi identitas para anggota partai.
Facebook juga dikritik gagal menghentikan orang-orang di Myanmar untuk menyebarkan pidato kebencian terhadap etnis Rohingya. Militer Myanmar telah dituduh membantai dan mengusir ratusan ribu Muslim Rohingya dari negara bagian utara Rakhine, sebuah operasi yang oleh beberapa ahli disebut pembersihan etnis.
Analis PBB mengatakan, Facebook telah digunakan untuk menghasut kekerasan terhadap Rohingya. Sebagai tanggapan, Facebook mengatakan, akan mempekerjakan puluhan orang Myanmar untuk meninjau konten Facebook di negara tersebut. (net)
Copyright secured by Digiprove 