Ketua Yayasan Sahabat Muda, Asep Bunyamin menunjukkan hasil pengolahan sampah organik dengan metode maggot di Desa Bongas, Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Ft istimewa
CILILIN– Anggota DPRD Jawa Barat, Edi Rusyandi mengapresiasi program CSR (Corporate Social Responsibility) yang dilaksanakan PT Migas Hulu Jabar (MUJ) dalam pengelolaan sampah di Desa Bongas, Cililin, Kabupaten Bandung Barat.
“Ini bentuk bentuk program (CSR) yang tepat sasaran. Karena di lokasi yang tepat, dikelola secara tepat dan bisa bermanfaat bagi masyarakat terutama dalam mengatasi masalah akut sampah,” kata Edi Rusyandi saat meninjau lokasi Kantor Maggot Cililin, baru-baru ini.
Kantor Maggot Cililin atau Kamagoci ini dikelola oleh Yayasan Sahabat Muda bersama Karangtaruna Bangkit Desa Bongas Cililin dengan mengelola sampah organik dari pasar dan warga sekitar kemudian diolah menjadi maggot yang dapat digunakan menjadi pakan alternatif ikan dan ternak.
“CSR yang benar itu yang bisa mengatasi masalah dan berdampak manfaat bagi masyarakat. Penanganan sampah pasar ini soal krusial yang belum terkelola dengan baik oleh pemerintah daerah setempat,” turur Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPRD Jabar ini.
Edi berharap, penggunaan Maggot dalam pengelolaan sampah ini bisa ditularkan di tempat lainnya di wilayah Bandung Barat. Menurutnya, Kamagoci bisa menjadi model dalam penanganan sampah organik.
Sementara itu, Ketua Yayasan Sahabat Muda, Asep Bunyamin mengatakan, kegiatannya ini bermula atas keprihatinannya tumpukan sampah pasar yang jarang diangkut oleh pemda dan dibuang di seputar pemukiman warga.
“Sampah ini biasanya baru diangkut oleh petugas dinas satu atau dua tahun kemudian. Sehingga menumpuk dan baunya menyengat di sekitaran pemukiman warga,” ujarnya.
Untuk itulah, dia berinisiatif bersama dengan para pemuda Karangtaruna setempat mengadakan pelatihan pengolahan sampah organik dengan metode maggot bekerjasama dengan Ganesha Enterpreneur ITB. Dari kegiatan ini mendapat respon positif warga yang ada juga mengolahnya secara mandiri dari sampah organik rumah tangga.
“Alhamdulillaah masalah sampah pasar ini bisa kita atasi. Dan kita mendapat dukungan BUMD Jabar PT MUJ berupa CSR. Ini sangat membantu. Kita pergunakan membangun tempat pengolahan, penyediaan mesin pencacah dan rak bikonversi,” tutur Asep.
Bahkan setelah mendapatkan dukungan program CSR tersebut, sumber sampah dari pasar yang diolah oleh Maggot ini masih kurang. Karenanya, melalui Kamagoci ini dirinya akan berekspansi mengangkut dari pasar lainnya yang belum terkelola. Hanya saja, masih terkendala alat mobilisasi.
Asep optimis, jika pemerintah juga BUMD dan swasta serius mengembangkan budidaya maggot untuk pengelolaan sampah, permasalahan sampah beserta dampak sosial lingkungan yang selama ini belum teratasi bisa jadi solusinya.
Nilai manfaat pengolahan sampah dengan penggunaan maggot ini, lanjut Asep, bukan hanya ekologis tapi juga punya nilai ekonomis.
Hingga saat ini, produksi maggot yang telah dihasilkan oleh Kamagoci per hari berupa fresh maggot 30 kg, pupa 3 kg, telur 15-20 gram.
Turunan dari program ini, tutur Asep, bersama para pemuda karangtaruna mengembangkan peternakan ayam kampung dengan sumber pakan maggot.
“Maggot yang kita hasilkan bisa kita jual untuk pakan ternak dan ikan. Sisa sampahnya bisa kita gunakan untuk pupuk” pungkasnya. ****

