‘PERMAINAN KATA’ dalam lembaga legislatif, kadang indah untuk didengar jika dialektika menunjukkan upaya cerdas dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja eksekutif. Suasana adu gagasan menjadi elok jika argumentasi sesuai fakta lapangan.
Perbedaan pandangan antarfraksi di DPRD, menjadi tontonan yang sangat naif jika ujungnya bukan keputusan yang memberikan kepastian politik bagi arah pembangunan KBB yang tidak boleh salah urus oleh siapa pun.
Saya sering memperhatikan kritik keras dari legislatif dan ujungnya tidak jelas. Di masa ekonomi yang sangat sulit dengan bayang-bayang wabah berkepanjangan juga beban hukum yang juga belun tuntas dengan KPK, sungguh menjadikan lembaga DPRD tidak menghargai rakyat yang menanggung beban kehidupan.
Andai saling merasa benar, padahal kita semua paham yang dibela jauh dari kebenaran apa yang ditolak juga tidak jelas ujungnya.
Sangat satria dan tidak aji mumpung mencari simpati rakyat jauh lebih penting legislatif bersikap terhadap kebijakan Plt Bupati. Mau dibawa ke arah mana KBB ? jangan malah lontaran perbedaan di legislatif menjadi ‘nyanyian’ yang tidak enak didengar sebab bait-bait lagu-lagu yang tanpa makna.
Menurut saya, di DPRD mengambil putusan akan mudah jika legislator memiliki kedewasan berpolitik. Perbedaan pendapat pembahasan perubahan RJPMD kenapa harus di bawa ke ruang publik?.
Di lanjutkan atau tidak pembahasan RJPMD kalau memang musyawarah sudah tidak ketemu mufakat. Ya ambil voting itu baru legislatif keren, jangan selalu mempertontonkan berisi tegang antara eksekutif dan legislatif ujung-ujungnya saling mengakomodir kepentingan rakyat, bukanlah seperti penonton wayang golek ketika dalang menutup cerita lalu penonton bubar. Terlalu banyak tampilan-tampilan politik di legislatif yang tak berujung. ***