RAGAM DAERAH– Ketua MPI DPD KNPI KBB, Lili Supriatna memberikan pandangan soal meritokrasi yang sempat ramai dipertanyakan paslon no urut 1 dalam debat kandidat calon kepala daerah KBB, kemarin.
Menurut Lili, meritokrasi adalah sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menduduki jabatan pemimpin berdasarkan prestasi bukan kekayaan atau kelas sosial.
“Meritokrasi ini merupakan anti tesis dari artitokrasi atau nepotisme. Apakah pertanyaan ini mengarah kepada paslon no 2 atau mengarah kepada pengertian meritokrasi yang mana,” sebutnya.
Meritokrasi sendiri, kata Lili, bisa diterap diberbagai bidang seperti pemerintahan, manajemen sumberdaya manusia dan organisasi besar. “KBB pernah mendapat penghargaan dengan sistem merit manajemen kepegawaian birokrasi yang sangat bagus dari kementerian,” ungkapnya.
Namun sayang, lanjut Lili, oleh pemerintahan sebelumnya meritokrasi terjadi degradasi dalam pengisian jabatan dan pelantikan ASN pada saat itu. “Saat itu terjadi kesalahan dalam pengisian SOTK sehingga harus terjadi pengulangan pelantikan oleh pemimpin selanjutnya,” kata Lili.
Persoalan ini berbalik miris, satu sisi KBB pernah dapat penghargaan tapi sati sisi pernah degradasi ASN yang dilantik diturunkan kembali ke posisi semula. “Ini menjadi hal lucu. Sehingga debat kandidat kemarin mana yang ilusi, imajinasi, dan mana yang sudah terealisasi,” ungkapnya.
Publik bisa menilai kemampuan dari lima calon menguasai materi SDM tersebut. Sehingga, kata Lili, dirinya sebagai bagian komponen kepemudaan melihat sejauh mana dari lima paslon bisa menguasai materi yang disodorkan panelis yang memberikan tema sumber daya manusia dan sumber daya alam. “Jadi kaitan meritokrasi harus diluruskan dan ditempatkan pada makna sesuguhnya kaitan meritokrasi itu,” pungkas Lili. ***

