NGAMPRAH- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bandung Barat (KBB), memfasilitasi para kelompok tani agar menjual produknya di bawah harga pasaran. Produk hasil tani itu pun dijual di Pasar Murah KBB baru-baru ini.
“Mereka berkomitmen untuk menjual di bawah harga pasar. Menurut saya harganya masih di bawah pasar mengingat menjelang nataru harga-harga memang sedang merangkak naik,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Heru Budi Purnomo, Kamis (23/12/2021).
Sementara itu, pengakuan seorang ibu-ibu yang membandingkan harga sembako di Pasar Murah Bandung Barat lebih mahal dari pasaran sempat viral.
Video berdurasi sekitar 19 detik itu memperlihatkan seorang ibu paruh baya memakai baju warna merah muda dengan hijab abu-abu.
Ia membandingkan harga sembako di Pasar Murah Bandung Barat lebih mahal dibanding pasar tradisional, salah satunya harga daging ayam Rp36 ribu. Padahal di pasaran, harga daging ayam rata-rata Rp32 ribu per kilogram.
“Bukan Pasar Murah, daging ayam di sini dijual Rp36 ribu per kilogram, sedangkan di pasaran Rp32 ribu per kilogram. Pasar Sinetron, bohong-bohongan,” tutur sang ibu dalam video tersebut.
Hasil penelusuran, video tersebut dibuat saat acara Operasi Pasar Murah Bandung Barat di Lapangan Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, pada Rabu 22 Desember 2021 kemarin. Rekaman itu diambil oleh seorang warga bernama Hendrik (60), di depan Masjid Agung Ash-Shiddiq KBB.
“Iya itu diambil kemarin. Saya video seorang ibu yang baru belanja dari Pasar Murah. Dia bilang pasar bohong karena harganya justru lebih mahal,” tutur Hendri saat dikonfirmasi.
Menurutnya, perbedaan harga sebesar Rp4 ribu dari daging ayam bagi masyarakat kecil jutru sangat memberatkan. Ia berharap pemerintah daerah melakukan evaluasi apalagi sejak awal agenda ini dilabeli Pasar Murah Bandung Barat untuk membantu warga mendapat sembako yang memasuki Natal dan Tahun Baru kerap meroket.
“Pak Plt Bupati harus evaluasi program ini. Di mana-mana kan sudah dipajang lebel Pasar Murah, tapi kok mahal,” pungkasnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) KBB, Ricky Riyadi mengatakan penanggungjawab Pasar Murah Bandung Barat terdiri dari tiga perangkat daerah (OPD) yakni Disperindag, Dispernakan, dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
“Jadi masing-masing punya tanggung jawab membuat tenant, Disperindag hanya menampilkannya tenant supermarket, minimarket saja, tanpa menjual daging ayam,” terang Ricky saat dikonfirmasi.
Ricky memastikan produk yang dijual tenant Disperindag tetap di bawah standar, meski selisihnya cukup kecil. Pasalnya, program Pasar Murah Bandung Barat kali ini tanpa subsidi dari pemerintah dan kerja sama dengan bulog.
“Insyaallah Disperindag menjamin barang barang yang dijual kemari dari supermarket dan minimarket harganya itu di bawah pasaran. Walaupun selisihnya hanya seribu atau Rp 2 ribu. Kenapa hanya segitu? Kalau Pasar Murah Bandung Barat sebelumnya itu kan ada subsidi dari pemerintah,” terangnya.
“Biasanya kerja sama juga dengan bulog, bahannya dibeli dulu sama pemerintah daerah atau sama dinas, baru dijual sama masyarakat. Kalau kemarin tidak seperti itu,” pungkasnya. ***

