
NGAMPRAH– Musyawarah Olahraga Kabupaten Luarbiasa (Musorkablub) Komite Olahraga Nasional (KONI) Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi trending topik saat ini.
Bagaimana tidak, Musorkablub dilaksanakan secara demokratis dengan menjaring para bakal calon ketua. Alhasil, ada 9 bakal calon yang ikut mendaftar.
Namun dari seleksi penjaringan, menetapkan 20% dukungan dari cabang olahraga (cabor). Alhasil hanya tiga yang mengembalikan formulir.
Ketua Tim Penjaringan Balon Ketua KONI KBB, Asep Dedi beberapa waktu lalu menyebutkan, berdasarkan kuota dukungan cabor yang diserahkan oleh bakal calon ke pihaknya, untuk Balon Ketua KONI atas nama Yakub Anwar Lewi ada 12 dukungan cabor, Yudha M Saputra 37 cabor, dan Fajar Taufik 10 cabor. Berikutnya, tahapan yang akan dilakukan adalah verifikasi berkas yang akan dilakukan pada tanggal 22-30 November 2021.
Bakal Calon Ketua KONI KBB Yakob Anwar Lewi mengangap tidak adil, salah satu bakal calon sudah mendapat 37 dukungan cabor dalam waktu singkat.
“Mungkin dukungan 3-4 bulan lalu sebelum penjaringan calon. Jadi bisa disebut sudah kadaluarsa atau mungkin sudah direkayasa sebelumnya,” kata Yakob belum lama ini.
Praktik dugaan rekayasa penjaringan, katanya, dilakukan oleh pengurus KONI lama, yang sebelumnya sudah tahu bakal ada penjaringan calon. “Sudah tahu penjaringan tanggal sekian itu sudah direncanakan semua, enggak eĺok,” tegas Yakob.
Aturan 20% syarat dukungan cabor, Yakob menyebutkan, tidak ada dalam aturan AD ART KONI. “Itu adalah kebiasaan yang biasa dilakukan KONI Jawa Barat hasil dari pra pleno 20% ya kita ikuti saja, tapi saat di cek di lapangan sudah mengarah ke salah seorang,” katanya.
Guru Besar Karete ini pun menyebut, dukungan cabor dari 2-4 bulan lalu, dianggap kadaluarsa lantaran diberikan sebelum panitia penjaringan terbentuk. “Dukungannya sudah terlalu lama harusnya dianulir. Masa sebelum ada penjaringan calon sudah buat surat dukungan. Ini dugaan ada penggiringan,” katanya.
Delapan calon yang ikut penjaringan kelabakan. Mereka kesulitan mendapatkan dukungan dari cabor. “Seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada calon-calon lain yang baru saja mengambil formulir pendaftar dan hampir semua cabor mengarah ke satu calon ini kurang elok bagi alam demokrasi saat ini,” katanya.
Praktik penjaringan itu, lanjut Yakob, ingin mempertahankan”kekuasaan” yang langgeng di KONI KBB. “Tidak ingin ada perubahan karena menggunakan teknik yang curang sudah dikondisikan,” katanya.
Dukungan 2 sampai 4 bulan lalu, Yakob akan mempertanyakan apakah masih berlaku atau tidak.
Polemik penjaringan Balon Ketua KONI KBB mendapat perhatian dari Tokoh Masyarakat KBB, Budi Sudrajat.
Budi menilai, kendati proses penjaringan dilalukan secara demokrasi, namun ada dugaan dipolitisir. “KONI ini lembaga profesional jangan dipolitisir. Ya kalau mengarah ke politis tidak akan benar ke sananya juga ini harus ada catatan,” kata Mantan Kades Cimareme ini.
Praktik dugaan penggiringan ke salah satu balon, kata Budi sama dengan mematikan proses demokrasi yang tidak memberikan kesempatan kepada calon lain yang betul-betul ingin mengabdi bagi kemajuan olah raga di KBB. “Kalau seseorang itu punya niat profesional di bidang olahraga silakan tunjukan. Kalau dapat prestasikan yang punya nama bukan KONI tapi daerah,” katanya.
Kencenderungan ada ikut campur tangan penguasa dalam prosesi pencalon Ketua KONI, kata Budi, tidak baik bagi kemajun dunia olahraga. “Kalau jadi ketua KONI harus bagiamana bupati sebetulnya tidak. Sekarang bagamana cabor saja siapa orang yang profesional di bidang itu,” pungkasnya. ***
