Analisis Kemenangan Pasangan BERJAMAAH

Penulis: Holid Nurjamil
Ketua Pusat Kajian Politik Ekonomi dan Pembangunan

JIKA kita flashback, berdasarkan data hasil survei awal setelah pendaftaran (realese survei awal September) dan kedua dipertengahan Oktober serta survei terakhir yang dirilis beberapa hari menjelang pencoblosan.

Pasangan Jeje – Asep Ismail memiliki trend kenaikan popularitas dan elektabilitas, pasangan ini peningkatannya paling cepat/tinggi dibandingkan pasangan yang lainnya, Sehingga survei terakhir yang di realese lembaga survei Median, Pasangan yang dikenal dengan BERJAMAAH ini sudah bisa menyalip pasangan HADE (Hengky-Ade), padahal survei di bulan Oktober pasangan Berjamaah masih dibawah Pasangan HADE dan DILAN.

Kalau kita melihat kenaikan elektabilitas ini tidak terlepas dari strategi Tim pemenangan yang dari awal sudah melakukan enviromental scanning yaitu proses pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi tentang lingkungan eksternal yang dapat mempengaruhi keberhasilan.
Ada beberapa indikator yang bisa Kita lihat terkait kemenangan Pasangan Jeje-asep. Pertama Melakukan pemetaan politik, dengan memetakan pemilih berdasarkan demografi dan preferensi politik serta Memetakan media komunikasi yang efektif digunakan oleh pemilih.

Yang kedua dengan melakukan pemetaan jaringan, itu bisa terlihat dari nama2 tokoh Tim Kampanye. Diisi oleh tokoh2 yg sangat dikenal oleh publik, dari mulai tokoh politik, Agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat. Yang salah satunya kita melihat Ketua Dewan penasehatnya Pak Ernawan mantan Wakil Bupati Bandung Barat yang memiliki pengaruh kuat, terutama di daerah selatan, terbukti dari hasil rekapitulasi perkecamatan Pasangan Jeje-Asep menang di seluruh kecamatan yang ada di wilayah selatan.

Melihat hasil  rekapitulasi penghitungan suara Pemilihan bupati dan wakil Bupati Pasangan Jeje-asep Ismail meraih Suara terbanyak sekitar 37,4%, unggul jauh atas pasangan Hengky -Ade diurutan kedua dengan hasil 24,5%.

Mesin Partai Pengusung dan juga relawan bergerak masif sampai akar rumput. Termasuk disaat pencoblosan dengan melakukan penempatan saksi di tiap-tiap TPS.
Jika kita melihat pada implementasi kegiatannya, dari:

1. Sosialisasi pasangan Jeje -Asep yang paling efektif, dengan metode kampanye tatap muka (blusukan, kampanye Akbar) terbukti hasil survei terakhir, sekitar 21% mengenal Pasangan ini melalui kampanye luar ruang (spanduk, baliho, banner, stiker) hampir 75%, ekspose melalui tv dan media sosial juga unggul dari calon lain, sehingga menaikan popularitas dan elektabilitas.

Selisih suara hampir 12,8 dengan pasangan HADE. Hampir bisa dipastikan Pasangan Jeje -Asep akan ditetapkan KPUD menjadi pasangan terpilih Bupati dan wakil Bupati.

Berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara mampu meraup suara tertinggi dengan jumlah 341.225 dengan pemetaan yang jelas dan mengimplementasikan strategi dengan tepat, Pasangan Jeje-Asep mampu meraup suara dari swing voter yang menentukan pilihannya dihari tenang dan saat pencoblosan.

Kabupaten/kota dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta, pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar 0,5% dari total suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir KPUD kabupaten/kota.

Menurut Pasal 156 Undang-undang RI Nomor 10 Tahun 2016, perselisihan hasil pemilihan merupakan perselisihan antara KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota dengan calon kepala daerah terhadap penetapan hasil perolehan suara. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *