TIDAR Bandung Barat Dorong Keinginan Masyarakat Perbatasan yang Ingin Bergabung ke Kota Cimahi

RAGAM DAERAH– Wacana sebagian wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB), termasuk Desa Tanimulya dan Desa Cilame, untuk bergabung dengan Kota Cimahi semakin banyak diperbincangkan.

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut, isu ini di harapkan bukan sekadar wacana politik, tetapi lebih kepada untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat jauh lebih baik.

Iwa, putra daerah Desa Tanimulya sekaligus Ketua Bidang OKK Tidar. Ft ist

Iwa salah seorang putra daerah Desa Tanimulya sekaligus Ketua Bidang OKK Tidar KBB menyampaikan bahwa masyarakat menilai sesuatu secara sederhana berdasarkan apa yang mereka rasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

“Masyarakat itu berbicara dengan ‘bahasa bayi’. Kalau enak, mereka diam dan tenang. Kalau nggak enak, ya mereka marah atau mengeluh. Dalam beberapa waktu terakhir, kami merasa ada banyak hal yang perlu diperbaiki. Jalan rusak, birokrasi dan lain-laian,” ujarnya dalam rilis yang diterima redaksi ragamdaerah.com, Senin 10 Maret 2025.

Menurut Iwa, keinginan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik bukan berarti ingin lepas dari KBB, tetapi lebih kepada harapan agar hak-hak dasar masyarakat dapat dipenuhi dengan lebih optimal. “Kalau Pemda KBB bisa memberikan pelayanan yang baik, tentu kami tetap di sini,” katanya.

Tapi jika ada opsi lain yang bisa lebih mengakomodasi kebutuhan masyarakat, wajar jika masyarakat mempertimbangkan. “Kami juga tidak datang dengan tangan kosong, jumlah penduduk di sini cukup banyak. Harapan ke depan ada keberpihakan pemerintah dalam bentuk pembangunan dan pelayanan yang jelas manfaatnya buat masyarakat,” tambahnya.

Tanggapan terhadap pernyataan beberapa tokoh KBB sebelumnya menyatakan bahwa gagasan ini hanya “mimpi” atau bahwa mayoritas warga tidak setuju. Namun, masyarakat yang sehari-hari menghadapi kondisi di lapangan menilai bahwa wacana ini berangkat dari realitas yang mereka rasakan.

“Saya menghormati setiap pendapat, dan saya memahami bahwa ada berbagai sudut pandang dalam hal ini,” sebutnya.

Namun yang lebih penting adalah bagaimana kmendengar langsung suara masyarakat di lapangan. Jalan yang masih rusak, pelayanan yang bisa lebih cepat, ini bukan sekadar opini, tapi realitas yang kami alami setiap hari. “Jadi jika ada aspirasi seperti ini, alangkah baiknya untuk didengar dan dibahas bersama, tegas”Iwa”.

Menurutnya, masyarakat hanya ingin melihat adanya perubahan nyata dalam pelayanan publik dan infrastruktur di daerahnya.

Warga berharap pemerintah, baik di tingkat KBB maupun Cimahi, bisa mendengar aspirasi masyarakat dengan kepala dingin dan hati terbuka.

“Kami tidak ingin sekadar berwacana atau berpolemik, yang kami harapkan adalah solusi nyata. Kami terbuka untuk berdiskusi, asalkan hasilnya adalah perbaikan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Yang terpenting bagi kami adalah keberpihakan untuk wilayah perbatasan,” pungkasnya. ***

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.