Petani KBB Menjerit, Harga Kopi Meroket

foto ilustrasi

LEMBANG- Meroketnya harga kopi membuat petani di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjerit.

Tingginya harga kopi dipicu oleh faktor cuaca yang menyebabkan produksi kopi menjadi merosot

Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) KBB Kurnia Danumihardja mengungkapkan, dampak anomali cuaca pada tahun ini cukup berpengaruh dengan tingginya harga kopi.

Dari catatan APEKI untuk jenis kopi grenbean Rp 75.000 ribu per kilogram, meningkat dari sebelumnya Rp 70.000. Sedangkan untuk buah Cheryy rata-rata dihargai Rp 10.000 per kilogram dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 8.000 per kilogram.

“Termasuk untuk gabah Rp 26.000 per kilogram, sekarang naik jadi Rp 28.000, perkilogram,” terang Kurnia, Senin (21/5/2018).

Diakui Kurnia, akibat faktor cuaca buruk saat pembuahaan sehingga banyak bunga yang tidak jadi buah.

Sementara menurutnya, petani mulai panen kopi pada Mei ini, dan puncak panen pada Agustus.

Kurnia menyebutkan, untuk kopi jenis robusta saat ini belum diketahui standar harganya. Pasalnya, kopi jenis robusta mulai panen pada Agustus.

“Robusta belum panen, dan biasanya itu pada Agustus baru mulai. Jadi sekarang kita belum untuk punya standar harga,” katanya.

Kurnia mengungkapkan, bahwa komoditas kopi yang tumbuh di Kabupaten Bandung Barat saat ini banyak diminati di pasar nasional maupun internasional. Dengan demikian, kopi-kopi yang ada di Jawa Barat diekspor ke Asia dan Amerika Serikat.

“Selama ini beberapa sentral kopi di daerah sudah bisa ekspor salah satunya ke Korea Selatan. Kami berharap tren ini bisa terus berjalan. Termasuk adanya daya dukung pemerintah daerah dalam mengatasi krisis petani kopi,” jelasnya.

Seperti diketahui, para petani di Kabupaten Bandung Barat sebelumnya meminta agar Harga Pokok Produksi (HPP) langsung ditetapkan oleh pemerintah daerah. Dengan HPP ditetapkan oleh pemerintah daerah, para petani diyakini akan terlindungi dari dampak pasar bebas.

“Petani jelas ingin ada keadilan harga. Makanya, kita berharap HPP itu bisa ditetapkan pemerintah,” kata Ketua Gabungan Petani Kopi Kebun dan Hutan Indonesia (Gapekhi), Setiowekti.(wie)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *