Sejak ditemukannya Mushaf Sana’a di Masjid Agung Sana’a, Yaman, pada tahun 1972, beberapa kalangan berusaha mengaitkan manuskrip ini dengan klaim bahwa Al-Qur’an mengalami perubahan dalam sejarahnya. Klaim tersebut didasarkan pada adanya variasi teks yang ditemukan dalam manuskrip tersebut. Namun, dengan kajian mendalam terhadap sejarah kodifikasi Al-Qur’an dan metode penyalinan di masa awal Islam, dapat dibuktikan bahwa perbedaan kecil dalam manuskrip ini tidak berarti bahwa Al-Qur’an telah berubah, melainkan mencerminkan aspek-aspek lain dalam proses penyalinan naskah. Artikel ini akan menjelaskan sejarah Mushaf Sana’a, proses kodifikasi Al-Qur’an, serta membantah klaim perubahan teks dalam Al-Qur’an.
(Referensi: Puin, Gerd-R. “Observations on Early Qur’an Manuscripts in San’a.” In The Qur’an as Text, ed. Stefan Wild, 107-111. Brill, 1996.)
Sejarah Penemuan dan Studi terhadap Mushaf Sana’a
Pada tahun 1972, saat sedang dilakukan renovasi di Masjid Agung Sana’a, pekerja konstruksi menemukan sejumlah manuskrip kuno yang berisi teks Al-Qur’an. Manuskrip ini kemudian menjadi objek penelitian oleh sejumlah pakar, termasuk Gerd-R. Puin dan timnya. Studi lebih lanjut mengungkap bahwa beberapa halaman dalam manuskrip ini menunjukkan adanya palimpsest, yaitu teks asli yang dihapus dan ditimpa tulisan baru, yang menandakan adanya proses revisi atau koreksi dalam tahap penyalinan.
(Referensi: Behnam Sadeghi & Uwe Bergmann, “The Codex of a Companion of the Prophet and the Qur’an of the Prophet,” Arabica 57 (2010): 343-436.)
Namun, klaim ini harus dianalisis secara lebih cermat dengan memahami konteks sejarah kodifikasi dan penulisan mushaf pada periode awal Islam.
Proses Kodifikasi Al-Qur’an: Menjaga Keotentikan Wahyu
Al-Qur’an tidak hanya disampaikan dalam bentuk tulisan tetapi juga diabadikan dalam hafalan ribuan sahabat. Proses kodifikasi Al-Qur’an dalam bentuk mushaf tertulis mengalami beberapa tahap penting:
1. Penulisan di Masa Rasulullah ﷺ
- Selama hidup Rasulullah ﷺ, wahyu yang turun langsung dicatat oleh para juru tulis wahyu, seperti Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan lainnya.
- Tulisan Al-Qur’an ditulis di berbagai media seperti pelepah kurma, kulit, dan tulang hewan.
- Para sahabat juga menghafal Al-Qur’an langsung dari Rasulullah ﷺ, yang menjadi metode utama pelestariannya.
(Referensi: Harald Motzki, “The Collection of the Qur’an: A Reconsideration of Western Views in Light of Recent Methodological Developments,” Der Islam 78, no. 1 (2001): 1-34.)
2. Pengumpulan Mushaf di Masa Abu Bakar ash-Shiddiq (11 H / 632 M)
- Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq melihat perlunya kodifikasi Al-Qur’an dalam satu mushaf yang terhimpun.
- Zaid bin Tsabit ditugaskan untuk mengumpulkan seluruh catatan Al-Qur’an yang tersebar di kalangan sahabat dan mencocokkannya dengan hafalan mereka.
- Hasil kodifikasi ini disimpan oleh Abu Bakar, kemudian diwariskan kepada Umar bin Khattab, dan akhirnya berada di tangan Hafshah binti Umar setelah wafatnya Umar.
(Referensi: Ibn Abi Dawud, “Kitab al-Masahif,” ed. Arthur Jeffery, Leiden: Brill, 1937.)
3. Standarisasi Mushaf di Masa Utsman bin Affan (25-35 H / 646-656 M)
- Ketika Islam menyebar ke berbagai wilayah, muncul perbedaan cara membaca Al-Qur’an di berbagai daerah berdasarkan qira’at yang diterima dari para sahabat.
- Khalifah Utsman bin Affan memerintahkan Zaid bin Tsabit bersama beberapa sahabat lainnya untuk menyalin kembali mushaf yang dikumpulkan pada masa Abu Bakar dan menyebarkannya ke berbagai wilayah.
- Mushaf ini dikenal sebagai Mushaf Utsmani, yang menjadi standar bacaan Al-Qur’an hingga saat ini.
- Mushaf-mushaf selain versi standar yang beredar di berbagai wilayah dihapus untuk menghindari perbedaan yang bisa menimbulkan perselisihan.
(Referensi: Fred M. Donner, “The Early Islamic Conquests,” Princeton University Press, 1981.)
Analisis Variasi dalam Mushaf Sana’a: Apakah Al-Qur’an Berubah?
Beberapa penelitian terhadap Mushaf Sana’a menemukan adanya variasi kecil dalam teks bawah (palimpsest), seperti:
- Perbedaan ejaan atau penyusunan kata yang tidak mengubah makna.
- Perbedaan dalam penggunaan sinonim yang masih sesuai dengan qira’at yang diterima.
(Referensi: Asma Hilali, “The Sanaa Palimpsest: The Transmission of the Qur’an in the First Centuries AH,” Oxford University Press, 2017.)
Namun, klaim bahwa variasi ini menunjukkan perubahan dalam teks Al-Qur’an sangat lemah, karena:
- Variasi ini tidak mengubah makna inti ayat.
- Beberapa variasi mencerminkan perbedaan qira’at yang telah dikenal dalam tradisi Islam.
- Banyak mushaf kuno yang ditemukan di berbagai tempat sepenuhnya sesuai dengan Mushaf Utsmani.
(Referensi: Marijn van Putten, “The Development of the Arabic Definite Article and the Emergence of Qira’at Variants,” Journal of Semitic Studies 64, no. 2 (2019): 487-505.)
Kesimpulan: Al-Qur’an Tetap Terjaga Keasliannya
- Al-Qur’an pertama kali ditulis di masa Rasulullah ﷺ, dikodifikasi di masa Abu Bakar, dan distandarisasi di masa Utsman tanpa adanya perubahan isi.
- Perbedaan dalam Mushaf Sana’a tidak menunjukkan perubahan isi Al-Qur’an, tetapi lebih mencerminkan variasi qira’at atau tahap awal penyalinan.
- Keotentikan Al-Qur’an tetap terjaga karena selalu bersumber dari hafalan sahabat yang mutawatir.
- Tidak ada bukti akademik yang menyatakan bahwa Al-Qur’an mengalami perubahan makna atau isi sejak masa Rasulullah ﷺ hingga sekarang.
Oleh karena itu, klaim bahwa Al-Qur’an mengalami perubahan karena adanya variasi dalam manuskrip kuno seperti Mushaf Sana’a tidak berdasar. Al-Qur’an tetap sebagaimana yang diwahyukan kepada Rasulullah ﷺ, dijaga melalui hafalan dan tulisan yang terstandarisasi hingga saat ini.
(Referensi: Nicolai Sinai, “The Qur’an: A Historical-Critical Introduction,” Edinburgh University Press, 2017.)
Wallahu a’lam bish-shawab.

