IRIGASI KALI CIJANGEL di Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) bukan irigasi sembarangan. Irigasi tersebut ternyata sudah ada sejak zaman Belanda yang mengairi ratusan hektare sawah di wilayah Parongpong, Tanimulya hingga Kalidam Cimahi.
Namun kini nasibnya tragis. Irigasi tersebut kerap dituding sebagai biang penyebab banjir lantaran terjadi penumpukan lumpur.
Laporan Hadi Wibowo Wartawan Ragam Daerah
Sunarya Erawan Anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat dari Fraksi Golkar menjadi saksi, bagaimana irigasi tersebut menjadi tempat ketergantungan ratusan para petani untuk mengairi sawahnya.

Apih–sapaan akrab Sunarya Erawan menceritakan, irigasi Sungai Cijangel airnya bisa mengaliri sawah di sekitar Cipageran, Tanimulya, Cilame, Pasirhalang, Batujajar, Baros, Utama hingga Cibeber. “Tapi sekarang airnya habis karena di hulunya banyak dibangun perumahan termasuk airnya diambil oleh PDAM Tirtarahardja,” kata Apih ditemui di rumahnya, Kamis 10 November 2022.
Irigasi Kali Cijangel tak hanya berfungsi untuk mengairi sawah. Masyarakat di era dekade tahun 70- an, memanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, cuci kakus sebelum adanya PDAM.
“Jika musim kemarau tidak pernah kering bisa digilir airnya untuk sawah karena hulu sungainya itu adalah Situ Lembang,” kata Apih.
Adapun gorong-gorong yang juga peninggalan Belanda di daerah Gandrung, Apih mengatakan, airnya sudah dangkal akibat terkena longsoran. “Waktu saya masih menjadi juru tulis desa seminggu sekali ngontrol air ke sana,” ungkapnya.
Apih yang pernah menjabat sebagai Camat Ngamprah saat KBB masih menyatu dengan Kabupaten Bandung, irigasi tersebut selalu diurus oleh para petani. Para petani sebelum ‘tandur’ melihat dulu irigasinya lalu bergerak usai bertani dengan menggelontorkan air kemudian dikeruk lumpurnya dua hingga tiga hari. “Kita sama-sama petani dari Cimahi bergerak ke sana,” katanya.
Tentunya jika tersendat, tidak akan bisa mengaliri sawah di Tanimulya, Cipageran, Pasirhalang yang sumber airnya dari Irigasi Sungai Cijangel.
Saat ini, Pemkab Bandung Barat tengah melakukan normalisasi irigasi Kali Cijangel dengan cara dikeruk lumpurnya agar bisa dalam dan mampu menampung air hujan penyebab banjir di Cisarua dan sekitarnya.
Irigasi yang berada tepat di pinggir jalan Provinsi Jawa Barat, Kolonel Masturi Cisarua-Lembang, dalam keadan kering lantaran banyaknya lumpur yang menyumbat aliran air. Tak hanya itu, badan irigasi nampak menyempit lantaran berdiri bangunan di sana. Tak heran, jika hujan besar, air meluber ke jalan dan menyebabkan banjir hingga pemukiman warga di daerah Barukai.
Apih pun memuji langkah Bupati Bandung Barat, Hengky Kurniawan melakukan normalisasi irigasi salah satu upaya atasi banjir. Namun Apih menyarankan, tak hanya pengerukan tapi sekali-kali harus ada pengelontoran air. “Sekali-kali airnya digelontorkan agar sedimentasinya biar bisa ngalir,” pungkasnya.
Sebelumnya, Bupati Bandung Barat, Hengky Kurniawan menilai pengerukan tersebut tidak terlalu efektif lantaran memang setiap tahunnya ada penumpukan sedimentasi.
“Jadi ini bentuk antisipasi dulu sementara supaya tidak ada endapan yang menutupi aliran air saat intensitas hujan tinggi. Bahkan, jika meluap bisa cepat surut,” katanya saat ditemui usai melakukan peninjauan di Sungai Cijangel, Selasa 8 November 2022.
Namun, jelas dia, pihaknya bakal membuat kajian yang bakal dilakukan Kadis PUTR (Rachmat Adang Syafaat) untuk dilaporkan ke Pemprov agar ada solusi bersama.
“Karena ini masih masuk kewajiban atau kewenangan Pemprov Jabar. Sedangkan, aliran sungai yang ke arah kiri masuk ke wilayah Desa Barukai yang mungkin akan kita bantu untuk normalisasinya,” jelasnya.
Ia menyebut, berdasarkan temuan dari Kadis PUTR ada faktor lain yang menutup jalannya air, yakni adanya pipa yang menghalangi sehingga air tidak lancar. ****

