Muscab PKB Bandung Barat Dihadiri Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat dan Para Tokoh Ulama Se-Bandung Barat

Ketua PW NU Jabar KH. Hasan Nuri Hidayatullah atau Gus Hasan foto bersama para kiyai NU KBB dan pengurus DPC PKB KBB usai muskab. ft istimewa

PADALARANG– Menjadi kebanggaan tersendiri pada Muscab DPC PKB Bandung Barat ke-4 kali ini. Selain dihadiri oleh seluruh pengurus dari mulai tingkatan kabupaten hingga seluruh kecamatan se-Kabupaten Bandung Barat, Ketua Banom-banom PKB dan NU, juga lembaga-lembaga PKB dan NU.

Turut hadir pula secara langsung, Ketua Dewan Tanfidziyah PW NU Provinsi Jawa Barat, KH Hasan Nuri Hidayatullah atau Gus Hasan di dampingi Ketua Rois Syuriah dan Ketua Dewan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Bandung Barat beserta jajarannya.

Gus Hasan dalam sambutannya menjelaskan tentang semangat bersatu dan bersama antara NU dan PKB dengan alur perjuangan terlahirnya PKB dari rahim NU.

“Terima kasih saya bisa hadir di tempat ini. Saya ingin sampaikan bahwa PKB adalah satu-satunya partai yang lahir dari rahim Nahdlatul ulama,” tegas Kyai Karismatik Jawa Barat ini.

Ketua Tanfidziyah PW NU ini pun berharap, adanya sinergi khusus antara NU dan PKB, ulama untuk bisa bekerja bersama-sama karena mempunyai tujuan yang sama.

“Nahdlatul Ulama mempunyai tugas berat yang ini tidak mampu dilaksanakan secara sendiri khususnya di Kabupaten Bandung Barat bisa dibantu oleh anak kandungnya sendiri (PKB),” katanya.

Ada tiga hal yang ditekankan secara langsung Ketua PW NU yang diharapkan mampu dilaksanakan oleh PKB di seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat.

“Menjaga negara, menjaga agama, dan menjaga umat atau masyarakat,” tegasnya.

Poin terpenting yang diharapkan dan bisa terlaksana dengan adanya sinergitas antara NU dan PKB ini, adalah dengan kemajuan di bidang pendidikan, bidang perekonomian, dan bidang kesehatan.

“Pertama sisi pendidikan, kedua sisi perekonomian dan ketiga sisi kesehatan,” lanjutnya.

Pesan yang dititipkan kepada PKB secara khusus ini adalah rangkaian dari sejarah panjang proses dari mulai sebelum bangsa ini merdeka, yaitu pada saat terlahirnya Nahdlatul Ulama.

“Tiga hal ini adalah harapan dan cuta-cita para pendiri bangsa ini,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *