
NGAMPRAH – Bantuan community development (comdev) atau CSR yang diberikan PLN dampak mega proyek PLTA Upper Cisokan kepada Pemda KBB Rp 225 miliar. CSR itu untuk peningkatan kualitas jalan, pembangunan masjid, puskesmas, dan lain-lain, tergantung kebutuhan dan permintaan dari masyarakat.
Kendati begitu, pembangunan megaproyek PLTA Upper Cisokan di Bandung Barat Rp 9,5 triliun molor. Pihak PLN mengakui banyak kendala dihadapi dalam membangun di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur.
“Permasalahan yang dihadaoi tidak bisa selesai dengan pendekatan keilmuan. Ya, target pengoperasian PLTA Upper Cisokan, over all mundur antara tahun 2024 atau 2025,” kata General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Pembangkit Jawa Bagian Tengah I (PLN UIP PJBT I), Ahmad Daryanto Ariyadi baru-baru ini.
Ahmad mengakui, kendala itu seperti pembebasan lahan, kondisi geologis, budaya di masyarakat, dan lain-lain.
“Jadi perlu pendekatan nonteknis selain keilmuan termasuk sokongan pendanaan agar tidak berlarut-larut,” sebutnya.
Saat ini, kata Ahmad, tengah dalam proses pengerjaan access road PLTA Upper Cisokan dimulai dari titik Cipari, Kecamatan Cipongkor. Itu dilakukan setelah pembebasan lahan beres, sehingga pembangunan bisa dilakukan. “Kondisinya sudah mencapai 31% termasuk pengaspalan, land slide untuk mengatasi terjadinya longsor, serta pembangunan jembatan dari total panjang acces road 27 kilometer,” sebutnya.
Access road yang dibangun meliputi empat desa di dua kecamatan. Keempat desa itu adalah Desa Cibitung dan Sukaresmi Kecamatan Rongga, serta Desa Cijambu, dan Desa Sirnagalih Kecamatan Cipongkor.
“Progres acces road-nya sudah 31% dengan mengambil titik awal di Cipari, Kecamatan Cipongkor dan mengarah ke titik Upper Dam dan Lower Dam,” sebutnya. (***)
Copyright secured by Digiprove 